Ilustrasi (Foto: BBC)
WASHINGTON - Ilmuwan mengatakan bahwa rentang hidup manusia ternyata lebih panjang ketimbang hewan primata atau simpanse. Primata sendiri diklasifikasikan sebagai bangsa mamalia yang meliputi kera, monyet, bahkan manusia pun termasuk di dalamnya.
Dilansir MSN, Kamis (25/10/2012), sebuah simulasi penelitian yang baru-baru ini dilakukan terkait dengan penjelasan mengenai konsep nenek (grandmothering). Konsep tersebut mengungkapkan mengapa rentang kehidupan manusia lebih panjang dibandingkan dengan simpanse atau kera (non-manusia).
Adalah Kristen Hawkes, seorang antropolog di Utah University yang melakukan riset tertarik dalam hipotesis ini dan melakukan penelitian terhadap Hadza, yakni kelompok etnis yang mendiami wilayah Tanzania.
Untuk menguji hipotesis ini, Kristen mengambil contoh peran seorang nenek dalam mempromosikan umur yang panjang. Hawkes beserta rekan-rekannya memulai dengan model matematika yang mewakili sebuah komunitas yang terdiri dari 1.000 pria dan wanita dengan rentang hidup yang menyerupai rata-rata rentang hidup kera (usia 20-an).
Model ini memiliki kemampuan untuk "berevolusi" dengan lebih panjang atau pendek tergantung pada kondisi. Peneliti mendefinisikan nenek sebagai wanita yang memiliki usia lebih dari 45 tahun.
Ketika variabel wanita berusia senja ini dimasukkan ke dalam instrumen penelitian, para peneliti menemukan adanya masa hidup yang "meroket". Dalam 24 ribu sampai 60 ribu tahun, bergantung pada paramater yang digunakan peneliti, mengungkap rata-rata seseorang di simulasi ini bisa hidup pada usia 40.
Ilmuwan juga menemukan bahwa perubahan iklim dan ekologi selama sejarah manusia pertama, memberikan kendala bagi anak yang baru disapih untuk mencari makanan mereka sendiri. Sementara ibu mereka berfokus melahirkan keturunan baru. Dalam situasi ini, nenek (etnis Hadza) berperan penting untuk menyediakan makanan,
Seperti diketahui, temuan ini dilaporkan pada Selasa (23/10) dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B dan mendukung hipotesis mengenai konsep nenek. Hipotesis ini juga berupaya mengaitkan, mengapa perempuan tidak seperti primata atau mamalia betina lainnya, yang dikatakan mampu hidup lebih lama dari tahun reproduksi mereka.
Kemungkinan, ide ini muncul dari figur seorang nenek yang bertugas merawat cucu mereka, mengizinkan anak-anak mereka untuk memiliki lebih banyak keturunan. Keluarga, di mana orang bisa hidup cukup lama hingga mencapai usia senja, menunjukkan mereka memiliki keuntungan genetik, yakni umur panjang yang memungkinkan mereka menyebar melalui seleksi alam
Dilansir MSN, Kamis (25/10/2012), sebuah simulasi penelitian yang baru-baru ini dilakukan terkait dengan penjelasan mengenai konsep nenek (grandmothering). Konsep tersebut mengungkapkan mengapa rentang kehidupan manusia lebih panjang dibandingkan dengan simpanse atau kera (non-manusia).
Adalah Kristen Hawkes, seorang antropolog di Utah University yang melakukan riset tertarik dalam hipotesis ini dan melakukan penelitian terhadap Hadza, yakni kelompok etnis yang mendiami wilayah Tanzania.
Untuk menguji hipotesis ini, Kristen mengambil contoh peran seorang nenek dalam mempromosikan umur yang panjang. Hawkes beserta rekan-rekannya memulai dengan model matematika yang mewakili sebuah komunitas yang terdiri dari 1.000 pria dan wanita dengan rentang hidup yang menyerupai rata-rata rentang hidup kera (usia 20-an).
Model ini memiliki kemampuan untuk "berevolusi" dengan lebih panjang atau pendek tergantung pada kondisi. Peneliti mendefinisikan nenek sebagai wanita yang memiliki usia lebih dari 45 tahun.
Ketika variabel wanita berusia senja ini dimasukkan ke dalam instrumen penelitian, para peneliti menemukan adanya masa hidup yang "meroket". Dalam 24 ribu sampai 60 ribu tahun, bergantung pada paramater yang digunakan peneliti, mengungkap rata-rata seseorang di simulasi ini bisa hidup pada usia 40.
Ilmuwan juga menemukan bahwa perubahan iklim dan ekologi selama sejarah manusia pertama, memberikan kendala bagi anak yang baru disapih untuk mencari makanan mereka sendiri. Sementara ibu mereka berfokus melahirkan keturunan baru. Dalam situasi ini, nenek (etnis Hadza) berperan penting untuk menyediakan makanan,
Seperti diketahui, temuan ini dilaporkan pada Selasa (23/10) dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B dan mendukung hipotesis mengenai konsep nenek. Hipotesis ini juga berupaya mengaitkan, mengapa perempuan tidak seperti primata atau mamalia betina lainnya, yang dikatakan mampu hidup lebih lama dari tahun reproduksi mereka.
Kemungkinan, ide ini muncul dari figur seorang nenek yang bertugas merawat cucu mereka, mengizinkan anak-anak mereka untuk memiliki lebih banyak keturunan. Keluarga, di mana orang bisa hidup cukup lama hingga mencapai usia senja, menunjukkan mereka memiliki keuntungan genetik, yakni umur panjang yang memungkinkan mereka menyebar melalui seleksi alam




0 komentar:
Posting Komentar